Bila tidak punah, bisakah dinosaurus raksasa berevolusi lebih besar lagi?

titanosaurus

Sumber gambar, Getty Images

    • Penulis, Kamala Thiagarajan
    • Peranan, BBC Future

Titanosaurus adalah salah satu hewan terbesar yang pernah berjalan di Bumi. Tetapi jika era dinosaurus tidak harus terhenti karena asteroid, dapatkah mereka berevolusi menjadi bahkan lebih besar lagi?

Pada tahun 2001, ahli paleontologi Kristina Curry Rogers dan Catherine Forster menemukan sebuah tulang rusuk di Madagaskar yang panjangnya hampir 3 meter, atau kira-kira sepanjang meja pingpong. 

Mereka telah menemukan spesies baru titanosaurus – sejenis dinosaurus raksasa pemakan tumbuhan – yang kemudian diberi nama Rapetosaurus krausei.

"Salah satu hal hebat tentang meneliti titanosaurus adalah ukuran 'raksasa' mereka," kata Rogers, profesor biologi dan geologi DeWitt Wallace di Macalester College di Minnesota, AS. 

"[Tapi] ini pula yang membuat titanosaurus sulit untuk digali - menggali satu kerangka saja dapat memakan waktu berbulan-bulan atau lebih untuk mengekstraksinya dari bebatuan." 

Titanosaurus, yang secara harfiah berarti "kadal raksasa", adalah dinosaurus sauropoda terakhir yang pernah hidup. Ini termasuk sekelompok herbivora beragam dengan leher yang sangat panjang, ekor panjang, dan kepala yang relatif kecil. 

Ketika titanosaurus ditemukan, para ilmuwan telah menemukan spesies-spesies terkenal seperti Brachiosaurus, Diplodocus dan Apatosaurus, yang hidup di era Jurassic, 201 hingga 145 juta tahun yang lalu. 

Tapi mereka mengira sauropoda tidak bertahan sampai akhir periode Cretaceous atau Zaman Kapur, yang berlangsung dari 145 hingga 66 juta tahun lalu, kata Matthew T Carrano, ahli paleobiologi di Smithsonian Institution di Washington DC.

Ahli paleontologi yang meneliti titanosaurus sering mengagumi skala dan ukurannya. 

"Satu tulang kakinya bahkan lebih panjang dari saya, dari ujung kepala sampai ujung kaki," kata Rogers, menambahkan bahwa terkadang satu tulang jari kaki sama besarnya dengan tulang lengan manusia. 

"Memegang kaki titanosaurus di tangan rasanya sangat luar biasa," katanya.

Titanosaurus

Sumber gambar, AFP/Getty Images

Keterangan gambar, Titanosaurus, dinosaurus terbesar yang pernah ditampilkan di American Museum of Natural History. Dinosaurus itu ditemukan pada tahun 2014, di wilayah Patagonia Argentina.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Tapi bagaimana mereka menjadi begitu besar? 

Bila mereka memiliki waktu lebih lama untuk berevolusi, dapatkah mereka menjadi lebih besar lagi?

Semua titanosaurus memulai hidup dengan ukuran relatif kecil. 

"Mereka menetas dari telur berukuran antara bola softball dan sepak bola," kata Rogers. 

"Sebagai tukik baru, mereka hanya seukuran chihuahua. Tampaknya tidak ada banyak perawatan orang tua di antara sauropoda besar ini, dan bayi akan keluar mencari makan sendiri, langsung dari sarang." 

Seiring waktu, katanya, mereka mencapai ukuran raksasa dengan melakukan apa yang kebanyakan sauropoda lakukan - makan dan makan.

Para ilmuwan percaya bahwa titanosaurus  tumbuh dengan cepat dan tidak melambat sampai mereka mencapai ukuran dewasa yang sangat besar. 

"Saat kami membandingkan tingkat pertumbuhan mereka sepanjang hidup dengan [tingkat] hewan yang masih hidup, yang paling mendekati adalah tingkat pertumbuhan yang kami amati pada paus. Luar biasa cepat," kata Rogers.

Titanosaurus, tidak seperti paus, tidak mendapat manfaat dari mengonsumsi susu yang berprotein tinggi dan bergizi yang diberikan oleh induknya, tambah Rogers. 

Sebaliknya, dinosaurus ini mencari makanan mereka sendiri. 

"Menjaga tingkat pertumbuhan mereka yang tinggi adalah salah satu hal di mana sebagian besar sauropoda berbeda dari kerabat dinosaurus pemakan daging, yang tampaknya lebih sering berhenti tumbuh seiring bertambahnya usia."

Sementara titanosaurus adalah sauropoda terbesar, Carrano menunjukkan bahwa nenek moyang mereka di antara sauropoda sudah cukup besar. 

"Berevolusi menjadi 70-80 ton dari nenek moyang seberat 20-30 ton mungkin tidak membutuhkan banyak inovasi evolusioner," katanya. 

Dia menjelaskan bahwa semua struktur dan sistem tubuh mereka sudah disiapkan untuk mereka menjadi berukuran besar.

"Sauropoda mengembangkan leher panjang sejak awal dari sepupu primitif mereka, sauropodomorph," kata Skye Walker, asisten lapangan di  Elevation Science Institute for Natural History Exploration, yang melakukan kerja lapangan di Montana dan Wyoming. 

"Ini memungkinkan mereka untuk memiliki pola makan yang bervariasi, memberi mereka akses ke berbagai makanan bergizi," katanya. 

Para ilmuwan percaya bahwa titanosaurus tumbuh dengan cepat dan tidak melambat sampai mereka mencapai ukuran dewasa yang sangat besar. 

Karena ukurannya yang terus bertambah, sauropoda mengembangkan kantung udara "pneumatik" di tulangnya, untuk membuat kerangkanya lebih ringan. 

"Kantung udara ini terdiri dari jaringan lunak yang terhubung ke paru-paru," kata Walker. 

"Ini membuat berat badan mereka lebih mudah untuk ditanggung dan memungkinkan suplai oksigen yang lebih efisien ke seluruh tubuh. Tidak seperti mamalia, berkat kantung udara ini, sauropoda tidak punya batasan seberapa besar mereka bisa tumbuh."

sauropoda

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Telur sauropoda.

Dinosaurus predator memiliki kantung udara pneumatik, seperti halnya burung modern, kata Carrano, dan ini mungkin berevolusi dari nenek moyang yang sama. 

Namun, mereka juga diperkirakan berevolusi secara mandiri di kelompok lain, termasuk pterosaurus dan sauropoda. 

"Ini akan meningkatkan kapasitas pernapasan dan meringankan tulang-tulang besar tanpa mengorbankan kekuatannya." 

Carrano menjelaskan bahwa sauropoda juga memiliki kaki pendek dan tungkai seperti pilar untuk menopang bobotnya yang sangat besar. "Ini semua adalah fitur ekstrem pada titanosaurus terbesar," katanya.

Titanosaurus juga memiliki adaptasi yang tersembunyi di persendian mereka. 

Armita Manafzadeh, mahasiswa pascadoktoral yang mempelajari biologi di Universitas Yale, menunjukkan bahwa dinosaurus non-unggas yang lebih kecil seperti T. rex memiliki persendian yang rapat di mana tulang mereka saling bertautan dengan tepat, seperti milik kita. 

Sebaliknya, titanosaurus memiliki persendian dengan volume tulang rawan licin yang sangat besar di ujung tulang mereka. 

Perbedaan dalam struktur persendian ini, katanya, terutama pada persendian tungkai utama seperti pinggul, dianggap sebagai adaptasi untuk mempertahankan bobot tubuh hewan yang besar dengan lebih baik.

Namun, menurut Carrano, yang kurang jelas adalah bagaimana ukuran titanosaurus berhasil melampaui nenek moyang sauropoda mereka. Mungkin mereka hanya memiliki lebih banyak waktu untuk mengembangkan tubuh yang lebih besar, setelah pendahulu Jurassic mereka punah. 

Di sisi lain, mereka mungkin telah memperoleh inovasi baru – mengutak-atik anatomi yang ada sehingga mereka bisa menjadi lebih besar. 

"Tapi tidak ada perbedaan besar yang membuat jawabannya jelas. Mungkin juga mereka mendapat manfaat dari ketersediaan makanan baru, khususnya tanaman berbunga, yang tidak ada di era Jurassic," kata Carrano.  

Maka, masih tidak diketahui apakah titanosaurus bisa menjadi lebih besar, jika dinosaurus ini tidak pernah punah.

"Saya pikir mungkin ada sauropoda yang lebih besar, mungkin, tapi tidak secara dramatis," kata Carrano. 

Mamenchisaurus

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Mamenchisaurus yang ditemukan di era Jurrasic di China.

Namun, sauropoda mungkin memiliki batas ukuran atas yang tidak bisa dilampaui, kata Carrano. 

"Jadi kita sudah memiliki 70-80 ton titanosaurus. Mungkinkah mereka mencapai 100 ton? Mungkin. Tapi 200 ton, saya ragu. Bahkan paus pun tidak sebesar itu, dan mereka hidup di media apung sepanjang hidup mereka. Saya pikir sauropoda berada dalam kisaran ukuran maksimum untuk hewan darat," katanya. 

Pada saat mereka punah, sauropoda sudah ada selama hampir 150 juta tahun. Carrano menjelaskan bahwa mungkin penambahan waktu tidak akan membuat banyak perbedaan.

Namun, beberapa ahli paleontologi mengatakan evolusi lebih lanjut bisa saja terjadi, terutama karena masih banyak yang belum kita ketahui tentang makhluk ini.

Spesimen titanosaurus, meskipun tersebar luas, sebagian besar tidak lengkap, kata Walker. 

"Titanosaurus baru masih ditemukan, jadi sangat menarik untuk dapat mengatakan bahwa kita belum mengetahui segalanya dan kita mungkin tidak akan pernah tahu. Kita menemukan hal-hal baru tentang hewan ini setiap hari dan masih ada banyak misteri untuk diungkap."

Selama 20 tahun terakhir, temuan fosil titanosaurus baru diberi nama dengan kecepatan yang mencengangkan, kata Rogers. 

"Saya pikir sekarang ada lebih dari 100 spesies bernama," katanya. 

"Ini menunjukkan bahwa dinosaurus yang penyebarannya global seperti ini memiliki ceruk dan merupakan kisah sukses evolusioner yang luar biasa. Jika bukan karena batu dari luar angkasa itu, mereka mungkin masih akan terus berevolusi dan melakukan diversifikasi."

-

Versi bahasa Inggris artikel ini dengan judul Could dinosaurs have grown any bigger? dapat Anda baca di BBC Future.