'Kami merasa gelisah, kami harap pemerintah segera menangani' - 10 orang warga NTT meninggal terjangkit rabies, pengamat: sarana dan prasarana medis masih kurang

Sumber gambar, ELIAZAR ROBERT / EL NDJUKAMBANI
Setidaknya 10 orang warga di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), meninggal dunia, karena terjangkit penyakit rabies, setidaknya sampai Kamis (22/06), demikian laporan Dinas Kesehatan NTT.
Dari 10 orang yang meninggal, tujuh merupakan warga Flores dan tiga di antaranya adalah warga Timor Tengah Selatan.
Adapun sebaran kasus terbanyak dilaporkan terjadi di Timor Tengah Selatan, dengan total 544 kasus.
Dalam konferensi pers Jumat (23/6), Kepala Dinas Kesehatan, Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dinkesdukcapil) NTT, Ruth Laiskodat, mengatakan pihaknya telah mengirim permohonan penambahan jumlah vaksin anti rabies (VAR) dan serum anti rabies (SAR) ke Kementrian Kesehatan.
“Supaya stok di provinsi NTT tidak berkurang, maka kami juga sudah memberikan permohonan kepada Kementerian Kesehatan, permintaan vaksin atau vial 25.000, permintaan SAR 550 [serum],” ujar Ruth.
Ketua Perhimpunan Ahli Epidemiologi, Pius Weraman, mengatakan bahwa saat ini sarana dan prasarana pengobatan sekaligus pencegahan penyakit rabies di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih belum cukup untuk menangani kasus-kasus menyebar semakin luas.
“Itu masih sangat terbatas, masih terbatas sehingga mungkin perlu ada langkah kelanjutan pihak Dinas Kesehatan Kabupaten,” ujar Pius kepada BBC News Indonesia, pada Minggu (25/6).
Menurut Pius, pencegahan dari segi ketersediaan vaksin untuk anjing perlu menjadi prioritas. Tetapi deteksi dini juga diperlukan agar warga dapat segera mendapatkan penanganan sebelum masuk fase kritis.
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
“Karena dia sudah menyerang pada saraf itu berarti walaupun sudah diberikan obat tapi pasti fatal itu akibatnya.”
Adelbertus Nifu, 54, warga Desa Sahan, Kecamatan Nunkolo, Kabupaten Timor Tengah Selatan merasa khawatir mendengar wabah rabies di Kabupaten TTS semakin merajalela. Terutama karena anaknya sendiri sempat digigit anjing pada April lalu.
“Anjing tetangga sendiri menggigit anak saya, kemudian sembuh,“ kata Adelbertus.
Adelbertus mengatakan anaknya sempat mengalami demam tinggi usai digigit anjing dan diobati menggunakan ramuan tradisional dan berhasil sembuh.
"Itu pengobatan lokal tidak dari medis," ujarnya.
Ia mengatakan pemerintah daerah sudah berupaya menangani penyebaran penyakit dari gigitan hewan itu. Namun, ia rasa perlu ditingkatkan lagi karena masih banyak kasus baru yang bermnculan.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten TTS, jumlah warga yang diduga terinfeksi virus rabies meningkat di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Pulau Timor, NTT. Sebelumnya pada 31 Mei 2023, jumlah kasus mencapai 72 orang.
Hampir satu bulan kemudian, jumlah kasus di Kabupaten TTS meningkat 6,5 kali lipat menjadi 544 kasus sampai dengan Minggu (25/6).
Tak hanya itu, penyebaran kasus pada 31 Mei yang semula hanya ditemukan di 21 desa kini telah bertambah lebih dari lima kali lipat menjadi 144 desa.
“Anjing tetangga sendiri menggigit anak saya”

Sumber gambar, AFP
Baca juga:
Warga di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, merasa khawatir dengan mewabahnya rabies di daerah tersebut.
Kekhawatiran warga muncul setelah tiga warga Timor Tengah Selatan meninggal dunia dengan gejala rabies usai tergigit anjing dengan dua orang diantaranya adalah anak-anak.
Salah satu warga yang merasa khawatir adalah Adelbertus Nifu, 54, warga Desa Sahan, Kecamatan Nunkolo, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Ia sempat mendengar kabar bahwa ada beberapa warga Desa Sahan yang terkena gigitan dan anjing yang menggigit warga langsung mati.
"Dari adanya pemberitaan di media sosial ada yang meninggal, kami merasa gelisah," kata Adelbertus.
Sebelum meningkatnya kasus rabies di Kabupaten TTS, anak perempuan Adelbertus, yakni Merlin Yohana yang berusia sembilan tahun terkena gigitan anjing pada April lalu.
“Anjing tetangga sendiri menggigit anak saya, kemudian sembuh,“ kata Adelbertus.
Adelbertus mengatakan anaknya sempat mengalami demam tinggi usai digigit anjing dan diobati menggunakan ramuan tradisional dan berhasil sembuh.
"Itu pengobatan lokal tidak dari medis," ujarnya.
Kasus gigitan terhadap anaknya tersebut kemudian dilaporkan kepada petugas medis sehingga saat ini anaknya berada dalam pemantauan petugas medis yang selalu datang untuk melakukan pemeriksaan secara rutin.
"Kami merasa gelisah, kami berharap kalau bisa pemerintah segera menangani itu supaya bagaimana caranya anjing-anjing yang berkaitan dengan penyakit rabies itu bisa dimusnahkan," kata Adelbertus kepada wartawan Eliazar Robert yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Minggu (25/06)
Adelbertus menjelaskan fasilitas kesehatan seperti puskesmas letaknya cukup jauh, 15 kilometer dari kampung mereka. Dan untuk pelayanan kesehatan di Desa Sahan hanya ada bidan desa dalam pelayanan kesehatan.
Meski demikian, Adelbertus mengaku upaya pemerintah sudah cukup baik untuk mencegah penyebaran rabies di TTS. Walaupun masih banyak anjing-anjing liar yang berkeliaran di Desa Sahan. Dan juga anjing-anjing warga pun masih belum dikandangkan atau diikat.
Ini memunculkan kekuatiran dari masyarakat, karena sangat rentan jika digigit anjing liar yang terinfeksi rabies.
"Ada beberapa waktu lalu, ada anjing liar mengigit anjing warga lalu anjing warga mati. Anjing yang menggigit itu pun langsung dikejar warga lalu dibunuh," ujarnya.
Dia berharap pemerintah akan lebih serius lagi dengan membuat keputusan secara tertulis untuk pencegahan rabies yang kini mewabah di TTS sehingga bisa dijadikan dasar hukum sehingga proses eliminasi terhadap anjing liar yang masih berkeliaran bisa dilakukan.
Sampai saat ini pun, sambungnya, belum ada petugas yang datang melakukan vaksinasi terhadap anjing-anjing milik warga.
"Belum, belum ada yang datang vaksin," kata Adelbertus.
Senada, Liger Banunaek, 42, Warga Desa Oe'ekam, Kecamatan Amanuban Timur, Timor Tengah Selatan. Walaupun di Desa Oe'ekam belum ada kasus gigitan anjing rabies, tetapi sejak rabies merembak di TTS pada akhir Mei 2023 lalu, Liger tidak merasa aman.
"Saya bersama keluarga takut dan ada rasa was-was karena [rabies]," kata Liger pada Minggu (25/6) siang.
Sama seperti Aldelbertus, Liger memiliki seorang anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Sejak kasus rabies meningkat di Kabupaten TTS, Liger dan istrinya selalu melarang anak-anaknya untuk keluar rumah ataupun bermain di sekitar halaman rumah.
Sehingga kata Liger pengawasan terhadap anak-anaknya lebih ditingkatkan jika keluar rumah karena bisa saja anjing yang terinfeksi rabies menyerang saat anak-anak keluar dan bermain diluar rumah.
Dia mengatakan khusus untuk di TTS upaya pencegahan rabies sudah cukup baik dari pemerintah.
"Beberapa dinas terkait seperti Dinas Peternakan sudah mulai melakukan vaksinasi," kata Liger.
Namun demikian, Liger berharap penanganan lebih ditingkatkan lagi sehingga kasus rabies di TTS bisa benar-benar hilang.
“Kalau menurut saya ya mungkin ditingkatkan lagi penanganannya karena memang ada beberapa hari kemarin masih mendengar ada kasus [rabies] lagi," ujarnya.
Dia menyampaikan meski penyebaran rabies menimbulkan keresahan di kalangan masyakarat, tetapi hal tersebut tidak sampai mengganggu aktifitas masyarakat. Walau begitu, kewaspadaan masyarakat terhadap rabies di TTS sangat tinggi.
Sarana dan prasarana 'masih kurang', pergerakan hewan 'belum dibatasi'
Ketua Perhimpunan Ahli Epidemiologi, Pius Weraman, mengatakan bahwa kasus rabies sudah lama ada di Pulau Flores, bahkan sejak 1997.
Namun, ini adalah pertama kalinya penyakit rabies menjangkit Pulau Timor setelah puluhan tahun.
Ia menduga bahwa penyebaran ke Pulau Timor itu disebabkan oleh perkembangan transportasi dan akses antar-pulau yang semakin meningkat.
Hal ini disebutnya membuat hewan penular rabies (HPR) dengan mudah masuk ke dalam daerah yang belum pernah terjangkit sebelumnya.
“Terutama kapal laut, kapal kayu untuk mengangkut barang itu sudah sering datang di daratan timur sehingga kemungkinan saja hewan yang penular rabies ini bisa berpindah dari daratan Flores ke Timor,” ujar Pius kepada BBC News Indonesia pada Minggu (25/6).
Maka, ia mendorong agar pemerintah daerah segera mengeluarkan larangan yang mengatur mobilitas hewan.
Pergerakan hewan yang berisiko terkena rabies seperti anjing, kucing, monyet dan lainnya perlu dibatasi agar penyakit itu tidak merambat ke daerah-daerah lain, katanya.
“Memang belum ada Perda yang mengatur, tapi sedang di proses untuk ke Perda agar hewan yang rabies ini, diharapkan tidak boleh berpindah lagi untuk kabupaten yang lain.
“Karena tidak boleh menyebar karena TTS itu berdampingan dengan Kabupaten Kupang, Kota Kupang, Timur Tengah Utara, Malaga dan Belu,” katanya.
Menurut Pius, saat ini kendala terbesar yang dihadapi pemerintah daerah – selain pergerakan hewan – adalah kurangnya sarana dan prasarana untuk mencegah dan mengobati rabies.
“Kelihatannya di Puskesmas itu dari aspek tersediaan sarana-prasarana dan obat maupun vaksin masih kurang. Itu kalau yang saya kontak ke Dinas Kesehatan TTS, itu masih sangat terbatas, masih terbatas sehingga mungkin perlu ada langkah kelanjutan pihak Dinas Kesehatan Kabupaten.
Ia berharap pemerintah di tingkat kabupaten dapat membuat perencanaan dan segera menyampaikan kepada pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat agar mereka dapat segera mengambil langkah-langkah untuk memastikan persediaan logistik dan penanganan selanjutnya.
“Jadi upaya preventif atau pencegahan itu harus di respon secara cepat oleh Puskeskmas, terutama Puskesnas, dan rumah sakit ketika ada rujukan untuk pelayanan lanjutan,” kata Pius.
Dinkesdukcapil NTT, Ruth Laiskodat, mengatakan bahwa saat ini Pemprov sedang menyiapkan ketersediaan vaksin dan vial, atau yang disebut dengan vaksin anti rabies (VAR) dan serum anti rabies (SAR).
“Kalau digigit di daerah leher ke atas atau di bagian yang ada banyak saraf maka akan diberikan vial. Jadi pertama diberikan serum, kedua diberikan vial,” ujar Ruth dalam konferensi pers pada Jumat (23/6).
Ruth mengatakan bahwa sampai saat ini stok vaksin tersisa 14.566 vial VAR, sedangkan untuk serum tersedia 10 vial.
“Yang sudah dikeluarkan sampai dengan 18 Juni, 25.200 vial VAR dan 220 vial SAR. Kepada delapan kabupaten ditambah dengan Lembata, lebih banyaknya diberikan sampai saat ini ke Timur Tengah Selatan,” ungkapnya.
Namun, kabupaten TTS dan daerah-daerah sekitar membutuhkan persediaan lebih banyak untuk menangani lonjakan kasus rabies.
Oleh karena itu, Ruth mengatakan pemprov telah mengirimkan permohonan kepada Kementerian Kesehatan agar stok vaksin dan serum di NTT segera ditambah untuk mengantisipasi lonjakan kasus.
“Kami juga sudah memberikan permohonan kepada Kementerian Kesehatan, permintaan vaksin atau vial 25 ribu, permintaan SAR 550 [vial] dan supaya masyarakat bisa mendapat edukasi, NTT juga meminta pamflet, leaflet, dan media edukasi lainnya.
“Kami berharap tidak ada lagi kematian,” ujar Ruth.
Dinas Pertanian menggenjotkan upaya vaksinasi hewan penular rabies

Sumber gambar, ELIAZAR ROBERT / EL NDJUKAMBANI
Baca juga:
Proses vaksinasi rabies terhadap hewan anjing di yang kini mewabah di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur saat ini baru mencapai 10% dari populasi hewan anjing di Kabupaten TTS yang diperkirakan mencapai 60.000 hingga 70.000 ekor anjing.
Dinas Peternakan Provinsi NTT mengeklaim telah mendistribusi 6.000 dosis vaksin rabies untuk disuntik ke hewan anjing milik masyarakat di Kabupaten TTS. Dari 6.000 dosis yang telah didistribusikan, baru sekitar 5.300 dosis telah disuntikan ke anjing milik masyakat.
"Kemarin kita sudah droping 6.000 [dosis], sudah tervaksinasi 5.000 lebih, 5.300-an, khusus [Pulau] Timor," kata Kepala Dinas Peternakan NTT, Johana Lisapaly kepada wartawan Eliazar Robert yang melaporkan untuk BBC News Indonesia pada Minggu (25/6).
Menurut Johanna, kendala terbesar dalam pencegahan rabies di NTT adalah kesadaran masyarakat. Anjing bagi warga di NTT adalah hewan peliharaan yang dianggap sangat membantu untuk menjaga kebun dan lain-lain sehingga sangat disayangi.
Namun, kesadaran masyarakat untuk melakukan vaksinasi masih sangat rendah.
Ia berharap masyarakat yang mampu secara ekonomi juga punya kepedulian untuk melakukan vaksinasi secara mandiri karena dengan keterbatasan anggaran yang dimiliki pemerintah tidak mungkin bisa menjangkau melakukan vaksinasi seluruh hewan anjing milik warga.
Johanna mengatakan Pemprov NTT akan menerima tambahan berupa 12.500 dosis vaksin dari Kementerian Pertanian sehingga total vaksin yang diterima nantinya akan mencapai 17.000.
Dan juga akan ada bantuan dari Organisasi Dunia Kesehatan (WHO) sebanyak 200.000 dosis sehingga ini nantinya bisa membantu percepatan vaksinasi.
Ia merinci untuk populasi anjing di Pulau Flores dan Lembata diperkirakan mencapai 320.000-an ekor berdasarakan pendataan yang dilakukan setiap tahun oleh Dinas Peternakan Provinsi NTT.
Sedangkan untuk di Kabupaten TTS, sambungnya, diperkirakan populasi hewan anjing di setiap desa mencapai 250 ekor.
"Sehingga dengan jumlah desa di TTS sebanyak 270 desa maka diperkirakan populasi anjingnya antara 60.000 hingga 70.000 ekor," kata Johana.
Menanggapi meningkatnya kasus rabies di beberapa daerah, Direktur Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Nuryani Zainuddin, mengatakan pihaknya telah mengambil sejumlah langkah untuk menangani kasus rabies.
Di antaranya, dengan menyediakan vaksin rabies tambahan untuk hewan, serta meningkatkan kapasitas petugas dalam merespons rabies, dan kampanye kesadaran masyarakat tentang rabies.
"Untuk respon darurat, kita kirimkan tambahan vaksin rabies ke daerah yang kasusnya meningkat seperti di NTT," kata Nuryani dalam keterangan resmi yang terbit pada Minggu (18/6).
Menurut Nuryani, vaksinasi darurat dilanjutkan vaksinasi massal rabies harus segera dilakukan pada anjing di daerah-daerah tertular rabies.
"Fokus utama vaksinasi di desa tertular dan dilanjutkan di desa-desa lain di wilayah tertular.
"Minimal 70% populasi anjing di wilayah tertular harus divaksinasi," jelasnya.
Lebih lanjut, Nuryani mengatakan peningkatan kasus rabies pada hewan dan manusia ini merupakan dampak dari adanya pandemi Covid-19 yang mengakibatkan penurunan kegiatan vaksinasi rabies dalam tiga tahun terakhir.
"Kami juga telah menggandeng kerjasama kemitraan untuk ketahanan Kesehatan Indonesia – Australia (AIHSP) untuk mendukung pengendalian rabies, khususnya untuk peningkatan kapasitas petugas, pengujian laboratorium," katanya.
Apa respons dari Kementerian Kesehatan?
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan bahwa saat ini Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih termasuk dalam 25 provinsi yang tergolong endemi rabies,
“Mengapa hal ini terjadi? Pertama karena penanganan rabies di pada hewan belum baik. Vaksinasi rabies pad hewan pembawa gigitan rabies atau umumnya anjing mash 30%. Masih banyak anjing di liar , kedua yang digigit datang terlambat ke fasilitas kesehatan,” jelas Nadia kepada BBC News Indonesia pada Minggu (25/6).
Lebih lanjut, Nadia menekankan bahwa rabies merupakan penyakit yang menular lewat gigitan hewan seperti anjing dan kucing yang terinfeksi. Sehingga, pemutusan rantai penularan harus dari segi hewannya.
“Yang utama adalah vaksinasi rabies pada hewan dan penanganan pada anjing yang masih liar, tentunya kalau ada kekurangan vaksin anti rabies atau serum anti rabies bisa ditambahkan
Terkait sarana dan prasarana pengobatan, Nadia mengatakan bahwa kini sudah tersedia rabies centre untuk mencukupi kebutuhan daerah. Ia menyebut penanganam rabies adalah upaya yang multi-sektor dan membutuhkan komitmen daerah.
Wartawan Eliazar Robert di Kupang, NTT, berkontribusi untuk artikel ini.




























