Ormas-ormas keagamaan di Indonesia kompak kecam serangan AS-Israel ke Iran

Seorang wanita Muslim memegang potret Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei (kiri), yang memimpin Iran sejak 1989 dan tewas dalam fase awal operasi militer skala besar AS dan Israel, saat area belasungkawa disiapkan di Pusat Kebudayaan Islam Jakarta di Jakarta pada 1 Maret 2026.

Sumber gambar, Yasuyoshi CHIBA / AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Seorang perempuan Muslim Indonesia memegang potret Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei (kiri), saat peringatan belasungkawa di Pusat Kebudayaan Islam Jakarta di Jakarta pada Minggu (01/03).
    • Penulis, Raja Eben Lumbanrau
    • Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
  • Waktu membaca: 15 menit

Israel bersama Amerika Serikat melakukan penyerangan besar-besaran ke Iran, yang menyebabkan pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dan beberapa pejabat lainnya meninggal dunia. Bagaimana masyarakat Indonesia merespons serangan itu dan apa harapan mereka ke pemerintahan Prabowo Subianto dalam bersikap?

Organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) mengeluarkan instruksi resmi kepada pengikutnya (atau lazim disebut warga Nahdliyin) untuk membacakan doa (Qunut Nazilah) dalam setiap salat.

Instruksi itu ditempuh sebagai bentuk kepedulian umat Islam Indonesia terhadap eskalasi konflik yang memanas di Timur Tengah, imbas agresi militer AS-Israel ke Iran.

"Melalui Qunut Nazilah, warga NU diajak memanjatkan doa agar Allah SWT memberikan keselamatan kepada masyarakat sipil yang terdampak serta menghadirkan perdamaian dan keadilan," bunyi surat PBNU yang ditandatangani pada Minggu (01/03).

NU dilaporkan memiliki pengikut lebih dari 95 juta anggota dan menjadikannya sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia.

Warga Nahdlatul Ulama menghadiri Mujahadah Kubro dalam rangka hari lahir Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) di Stadion Gajayana, Kota Malang, Jawa Timur, Minggu (8/2/2026). Puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) NU ke-100 atau Satu Abad Masehi tersebut mengangkat tema "Memperkokoh Jam'iyah, Tradisi, Kontribusi dalam Mengembangkan Peradaban".

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Keterangan gambar, Warga Nahdlatul Ulama menghadiri Mujahadah Kubro dalam rangka hari lahir Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) di Stadion Gajayana, Kota Malang, Jawa Timur, Minggu (08/02).

Sekjen PBNU, Saifullah Yusuf atau disapa Gus Ipul menyampaikan keprihatinannya dan berharap ketegangan bersenjata itu tidak berlarut-larut.

"Jangan sampai ini punya dampak yang luas, secara global," ujar Gus Ipul yang juga menjabat sebagai Menteri Sosial.

Sebelumnya, PBNU juga mengecam serangan Israel ke Iran pada 13 Juni lalu.

"Ini adalah ancaman yang luar biasa berbahaya terhadap kemanusiaan, serta keamanan dan stabilitas internasional," tulis PBNU.

Muhammadiyah: 'Kami mengecam serangan itu'

Asap mengepul dari area tersebut setelah menjadi sasaran serangan, diiringi serangkaian ledakan di Teheran, Iran pada 1 Maret 2026. Gedung Lembaga Penyiaran Republik Islam Iran (IRIB) setelah pihak berwenang Iran menyatakan menjadi sasaran serangan, sementara tentara Iran mengumumkan telah melancarkan serangan baru terhadap target AS dan Israel

Sumber gambar, Fatemeh Bahrami/Anadolu via Getty Images

Keterangan gambar, Asap mengepul dari area tersebut setelah menjadi sasaran serangan, diiringi serangkaian ledakan di Teheran, Iran pada Minggu (01/03).

Muhammadiyah, ormas Islam terbesar kedua di Indonesia dengan pengikut lebih dari 60 juta jiwa, mengecam serangan AS dan Israel ke Iran.

"Kami mengecam dengan sangat serangan tersebut dan kami memandangnya sebagai pelanggaran atas hak-hak asasi manusia, hukum internasional, dan pengabaian atas keputusan-keputusan Perserikatan Bangsa-Bangsa," bunyi surat yang ditandatangani Ketua PP Muhamaddiyah, Syafiq A. Mughni pada Senin (02/03).

Selain kecaman, Muhammadiyah juga menyampaikan rasa keprihatinan dan belasungkawa atas meninggalnya pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei dan korban lainnya timbul dalam konflik itu.

Warga Muhammadiyah melaksanakan shalat tarawih berjamaah pertama di Masjid Raya Uswatun Hasanah, Daan Mogot, Jakarta, Selasa (17/2/2026). Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah secara resmi menetapkan awal Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, sementara pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan awal puasa atau 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso

Keterangan gambar, Warga Muhammadiyah melaksanakan shalat tarawih berjamaah pertama di Masjid Raya Uswatun Hasanah, Daan Mogot, Jakarta, Selasa (17/02).

Muhammadiyah lantas menyerukan agar PBB memberikan sanksi tegas ke AS dan Israel atas pelanggaran yang dilakukan dan mewujudkannya dengan langkah yang nyata.

"Kami mendorong agar PBB dan Organisasi Kerja Sama Islam [OKI] segera mengambil langkah-langkah untuk mengakhiri genosida terhadap bangsa Palestina, serta segala bentuk kekerasan dan mencegah meningkatnya ketegangan antarnegara di kawasan Timur Tengah," bunyi surat itu.

Mungkin Anda tertarik:

Selain itu, Muhammadiyah juga mengajak Iran dan negara-negara Arab saling menahan diri dan mengedepankan dialog untuk tidak terlibat konflik lebih jauh antar sesama anggota OKI.

"Kami mengajak semua negara, lembaga-lembaga multilateral dan bilateral, tokoh-tokoh agama dan kekuatan masyarakat pada umumnya untuk ikut menciptakan kedamaian dan keadilan global dan mengecam segala bentuk tindakan yang semena-mena yang menyebabkan kerusakan dan hancurnya peradaban di muka bumi."

MUI kutuk serangan ke Iran

Beberapa pria menyaksikan dari lereng bukit saat kepulan asap membubung setelah ledakan pada 2 Maret 2026 di Teheran, Iran.

Sumber gambar, Majid Saeedi/Getty Images

Keterangan gambar, Beberapa pria menyaksikan dari lereng bukit saat kepulan asap membubung setelah ledakan pada 2 Maret 2026 di Teheran, Iran.

Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang menjadi wadah musyawarah para ulama dan cendekiawan Muslim Indonesia, mengutuk keras serangan Israel dan AS ke Iran.

MUI berkata serangan itu bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan ketertiban dunia. MUI menegaskan setiap bentuk agresi yang melanggar kedaulatan negara lain harus dihentikan.

MUI juga menyampaikan duka mendalam atas "gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei," dalam tausiyah yang ditandatangai Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar.

Seorang perempuan Muslim Indonesia memegang potret Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei (kiri), saat peringatan belasungkawa di Pusat Kebudayaan Islam Jakarta di Jakarta pada Minggu (01/03).

Sumber gambar, Yasuyoshi CHIBA / AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Seorang perempuan Muslim Indonesia memegang potret Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei (kiri), saat peringatan belasungkawa di Pusat Kebudayaan Islam Jakarta di Jakarta pada Minggu (01/03).

Selain itu, MUI menduga adanya motif strategis di balik serangan itu, yaitu untuk melemahkan posisi Iran di kawasan sekaligus membatasi dukungan terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina.

Untuk menghindari eskalasi yang lebih luas, MUI mendesak AS dan Israel untuk menghentikan serangan ke Iran karena bertentangan dengan Pasal 2 (4) Deklarasi PBB.

"MUI menyerukan kepada PBB dan OKI untuk langkah-langkah maksimal menghentikan perang dan menghormati hukum internasional. MUI berkeyakinan bahwa perang akan mendatangkan kemudhorotan global," tulis MUI.

PGI: 'Ini merusak peradaban dan menginjak martabat manusia'

Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), wadah bagi sekitar 80% umat Kristen Protestan Indonesia, juga menyampaikan rasa keprihatinan yang mendalam atas serangan AS dan Israel ke Iran.

"Ini merusak peradaban dan menginjak martabat manusia yang segambar dan serupa dengan Tuhan dan berdampak pada ke stabilitas regional bahkan mungkin bisa menjadi krisis global, kalau masing-masing pihak tidak berupaya menahan atau melakukan deeskalasi konflik," kata Sekretaris Umum PGI Pendeta Darwin Darmawan kepada wartawan BBC News Indonesia, Raja Eben Lumbanrau.

Warga Iran berduka atas wafatnya Ayatollah Ali Khamenei di Teheran.

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Warga Iran berduka atas wafatnya Ayatollah Ali Khamenei di Teheran.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Darwin berkata serangan itu merupakan bentuk pelanggaran atas HAM dan martabat kemanusiaan "karena dalam perang, warga sipil yang menderita, keluarga tercerai berai, anak-anak jadi korban, terpapar ketakutan dan trauma. Itu sesuatu yang membuat nurani manusia terganggu. Ini tidak bisa dibiarkan secara kemanusiaan."

Darwin pun berkata, PGI mendoakan dan menghimbau para pengambil kebijakan untuk mengedepankan dialog dan menjunjung tinggi peradaban yang sudah dibangun ratusan tahun.

Selain itu, Darwin berharap agar di tengah situasi perang ini tak ada sentimen-sentimen keagamaan yang tidak perlu dan malah mempertebal polarisasi di ruang digital.

"Misalnya sentimen Israel dianggap dekat dengan kekristianan, lalu hebat menang perang padahal ini sedang menginjak-injak kemanusiaan. Kalau beragama secara benar mestinya nurani kita terluka melihat sesama manusia yang adalah cerminan keilahian, dihancurkan oleh kekerasan senjata yang tidak punya nurani," tutup Darwin.

MATAKIN: 'Kami mengecam keras segala bentuk agresi militer dan kekerasan'

Pemandangan umum Teheran dengan asap terlihat di kejauhan setelah ledakan dilaporkan terjadi di kota tersebut, pada 02 Maret 2026 di Teheran, Iran.

Sumber gambar, Kontributor/Getty Images

Keterangan gambar, Pemandangan umum Teheran dengan asap terlihat di kejauhan setelah ledakan dilaporkan terjadi di kota tersebut, pada 02 Maret 2026 di Teheran, Iran.

Wakil Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Chandra Setiawan berkata, setiap tindakan kekerasan dan peperangan bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan universal yang diajarkan Nabi Kongzi.

"Peperangan hanya akan membawa penderitaan bagi rakyat sipil yang tidak berdosa. Kami mengecam keras segala bentuk agresi militer dan kekerasan," kata Chandra merespon serangan AS-Israel ke Iran.

Dalam perspektif Khonghucu, lanjutnya, menyakiti satu orang saja sama dengan menyakiti seluruh umat manusia, apalagi jika meluas menjadi konflik antarbangsa.

"Solusi atas sebuah perselisihan haruslah ditempuh melalui dialog dan diplomasi yang mengedepankan kebajikan, bukan melalui kekuatan senjata," kata Chandra.

Di tengah rasa prihatin dan duka yang mendalam atas korban yang berjatuhan atas peristiwa itu, Chandra menghimbau agar setiap umat untuk menjaga persatuan dan kerukunan.

Penganut Konghucu bersembahyang di Wihara Bodhisatva Karaniya Metta di Jalan Kapten Marsan, Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (16/2/2026). Umat Konghucu di Kota Pontianak melaksanakan sembahyang menyambut Tahun Baru Imlek Kongzili 2577/2026 untuk memohon berkah, keselamatan dan perlindungan dari Yang Maha Kuasa.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Jessica Wuysang

Keterangan gambar, Penganut Konghucu bersembahyang di Wihara Bodhisatva Karaniya Metta di Jalan Kapten Marsan, Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (16/02).

"Indonesia adalah negara yang majemuk. Jangan biarkan perbedaan dukungan politik luar negeri memecah belah tali persaudaraan kita sebagai anak bangsa. Ingatlah ajaran Zhong Yong [jalan tengah] untuk selalu bersikap moderat dan tidak ekstrem," ujar Chandra.

Chandra juga berharap agar setiap umat untuk memanjatkan doa dan harapan baik semoga perdamaian segera terwujud dan masyarakat yang terdampak konflik diberikan ketabahan serta perlindungan oleh Tuhan (Tian).

"Utamakan nilai-nilai kemanusiaan. Fokuskan energi dan empati kita pada upaya-upaya kemanusiaan, bukan pada provokasi atau ujaran kebencian. Inilah wujud nyata dari ajaran Xiao Ti [rasa kasih sayang dan persaudaraan]," ujar Chandra.

BBC juga telah menghubungi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) dan organisasi Buddha Indonesia (Walubi dan Permabudhi), namun hingga berita ini tayang belum ada tanggapan dari mereka.

Bagaimana pemerintah seharusnya bersikap?

Presiden Prabowo Subianto (kedua kiri) didampingi CEO Danantara Rosan Roeslani (kiri) dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (kanan) mengikuti forum bisnis di Washington DC, Amerika Serikat, Jumat (20/2/2026). Pertemuan dengan 12 pengusaha AS itu membahas peluang investasi di Indonesia.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

Keterangan gambar, Presiden Prabowo Subianto (kedua kiri) didampingi CEO Danantara Rosan Roeslani (kiri) dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (kanan) mengikuti forum bisnis di Washington DC, Amerika Serikat, Jumat (20/02).

Kementerian Luar Negeri Indonesia dalam keterangannya sangat menyesalkan gagalnya perundingan antara AS dan Iran, yang telah berdampak pada eskalasi militer di kawasan Timur Tengah.

"Indonesia menyerukan seluruh pihak untuk menahan diri dan mengedepankan dialog dan diplomasi. Indonesia kembali menekankan pentingnya menghormati kedaulatan dan integritas wilayah setiap negara serta menyelesaikan perbedaan melalui cara damai," tulis akun resmi Kemlu di X, pada Sabtu (28/02).

Selain itu, kata Kemlu, Presiden Prabowo Subianto juga menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif dan apabila disetujui kedua belah pihak, "Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi."

Kemlu bilang, peningkatan ketegangan di Timur Tengah berpotensi mengganggu stabilitas kawasan serta perdamaian dan keamanan dunia. "WNI di wilayah terdampak diimbau tetap tenang, waspada, mengikuti arahan otoritas setempat, dan menjaga komunikasi dengan Perwakilan RI terdekat."

Hentikan X pesan
Izinkan konten X?

Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.

Peringatan: BBC tidak bertanggung jawab atas konten situs eksternal

Lompati X pesan

Namun, mantan Dubes Indonesia di Iran, Dian Wirengjurit melihat Indonesia tidak memiliki kekuatan untuk menjadi penengah antara kedua kubu yang berperang.

"Enggak usah gaya-gaya aneh. Di ASEAN saja enggak bisa berbuat apa. Mau jadi penengah? Mimpi. Kita enggak punya pengaruh, enggak punya gaya ungkit diplomasi. Dalam negeri saja bereskan dulu," ujar Dian.

"Saya enggak tahu pembisiknya presiden siapa, apa yang dibisikkan. Atau memang presiden kita enggak bisa dibilangin. Enggak usah gabung BoP, malah gabung. Enggak usah ikut ISF, malah siapin pasukan ribuan orang. Sekarang di Iran sok gagah-gagahan."

Presiden AS Donald Trump (kiri) berjabat tangan dengan Presiden Indonesia Prabowo Subianto pada pertemuan "Dewan Perdamaian" selama pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos pada 22 Januari 2026. Presiden AS Donald Trump akan memamerkan "Dewan Perdamaian" barunya di Davos pada 22 Januari 2026, memperkuat klaimnya sebagai pembawa perdamaian sehari setelah menarik kembali ancamannya sendiri terhadap Greenland. Awalnya dimaksudkan untuk mengawasi pembangunan kembali Gaza setelah perang antara Hamas dan Israel, piagam dewan tersebut tidak membatasi perannya hanya pada Jalur Gaza, dan telah memicu kekhawatiran bahwa Trump ingin dewan tersebut menyaingi Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Sumber gambar, Fabrice COFFRINI / AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Presiden AS Donald Trump (kiri) berjabat tangan dengan Presiden Indonesia Prabowo Subianto pada pertemuan "Dewan Perdamaian" selama pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos.

Pengamat Timur Tengah dari Universitas Padjajaran, Dina Yulianti Sulaeman, memandang bahwa pemerintah Indonesia harusnya mengambil sikap tegas merujuk hukum internasional.

"Bahwa serangan AS dan Israel ke Iran itu dilarang dalam Pasal 2 PBB. Jangan menempatkan dua kubu setara, dengan bilang menahan diri karena memang tidak setara, siapa pelaku dan siapa korban. Indonesia harus mengecam atau mengutuk tindakan itu," ujar Dina.

Darwin dari PGI melihat pemerintah Indonesia pasti memiliki pertimbangan geopolitik, ekonomi,dan lainnya dalam menyikapi serangan AS dan Israel ke Iran.

"Tapi pada titik tertentu ketika Amerika menginjak-injak kemanusiaan pemerintah harus berteriak, salah ya salah, keliru ya keliru, dan itu melampaui kepentingan ekonomi atau kepentingan geopolitik," ujar Darwin.

MUI pun mendesak pemerintah mengambil sikap yang lebih tegas. Salah satunya adalah Indonesia keluar dari Dewan Perdamaian (BoP) yang dipandang tidak efektif.

Senada, pengamat sosial ekonomi dan keagamaan, Anwar Abbas juga mengkritik keputusan Prabowo masuk dalam Dewan Perdamaian.

"Buat apa Pak Prabowo ikut ke BoP? Hanya membuat rakyat enggak percaya sama dia saja, padahal awal-awalnya Prabowo mendapatkan tempat di hati rakyat," ujarnya.

Bagaimana kondisi internal di Iran?

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei melambaikan tangan kepada para pendukungnya selama konferensi pers setelah memberikan suara dalam pemilihan putaran kedua parlemen di Teheran pada 10 Mei 2024.

Sumber gambar, ATTA KENARE/AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei melambaikan tangan kepada para pendukungnya selama konferensi pers setelah memberikan suara dalam pemilihan putaran kedua parlemen di Teheran pada 10 Mei 2024.

Bagaimana warga Iran sendiri memandang serangan AS dan Israel itu? Dalam liputan BBC, berjudul Harapan dan ketakutan warga Iran soal potensi serangan AS – 'Bebas dari rezim atau jatuh ke perang saudara?', sejumlah warga Iran mengabarkan kondisi mereka di sana.

Seorang pemuda dari Teheran bilang mayoritas orang yang dia temui, terutama di kalangan anak muda, mendukung serangan AS.

"Kami siap dengan cara apa pun agar Republik Islam hancur, bahkan jika kami sendiri terbunuh, seperti banyak rekan kami yang tewas dalam perang antara rakyat dan pemerintah di Januari."

Dalam aksi demonstrasi di akhir 2025, organisasi aktivis HAM di Iran (HRANA) hingga 13 Februari telah mengonfirmasi kematian 7.005 orang dan masih menyelidiki ratusan laporan lainnya.

Warga Iran memprotes serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada 28 Februari 2026 di Teheran, Iran. Iran meluncurkan gelombang rudal ke Israel dan situs militer AS di kawasan tersebut sebagai tanggapan atas serangan hari ini, di mana AS dan Israel menyerang sejumlah lokasi di seluruh negeri.

Sumber gambar, Majid Saeedi/Getty Images

Keterangan gambar, Warga Iran memprotes serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada 28 Februari 2026 di Teheran, Iran.

Namun di sisi lain, pengumuman tewasnya Ali Khamenei direspons dengan aksi demonstrasi besar di seluruh Iran.

Media Iran mengatakan para demonstran yang membawa bendera Iran berkumpul di pusat-pusat kota untuk menyuarakan kesedihan mereka.

Di Teheran, ratusan orang berkumpul di Lapangan Inkilap, mengibarkan bendera dan poster Khamenei, dan meneriakkan slogan-slogan yang mengutuk AS dan Israel.

Di Kota Qom, ratusan orang berkumpul di makam Hazrat Masume untuk mengecam serangan tersebut.

Di Mashhad, para pelayat mengungkapkan rasa duka dengan membentangkan bendera hitam di atas kubah Makam Imam Reza.

Sementara itu, beragam pandangan juga tercermin di kalangan warganet Indonesia.

Dalam postingan BBC News Indonesia di Instagram yang memberitakan tewasnya Ali Khamenei, sekelompok warganet mengecam serangan AS dan Israel itu.

"Berdoa untuk Ali Khamenei, semoga surga adalah tempat terakhir beliau, mati sahid dan diberi kedamaian yang melebih damainya bumi."

"Insyaallah syahid, dan semoga Allah menempatkan mereka di Jannah."

"Ini pelanggaran enggak sih, masa menyerang kediaman pemimpin negara langsung. Gila."

"Teman-teman yang lagi di Timteng stay safe ya, ngeri banget ini, potensi WW III."

Namun, ada juga warganet yang mendukung serangan itu.

"Akhirnya diktator tumbang juga."

"Rakyat Iran bersukacita, rakyat Konoha berduka. Ada yang salah kah?"

"Rakyat Iran di dalam dan luar negeri bersukacita."

Mengapa warga Iran terpecah dalam melihat serangan itu?

Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Yon Machmudi, melihat hal itu tak lepas dari Revolusi Iran yang berlangsung pada 1979.

Saat itu, rakyat Iran memberontak dan menggulingkan pemerintahan sekuler pimpinan Shah Iran, Mohammed Reza Pahlavi, yang dekat dengan AS dan Israel.

Revolusi itu mengubah Iran dari system monarki ke republik Islam.

"Kemudian muncul dua kubu, yaitu kelompok loyalis Pahlevi yang sekuler dan pro-Barat dan kelompok loyalis Khamenei, rezim saat ini. Hal ini yang menyebabkan secara sejarah dan politik, warga Iran terpecah pandangannya," ujarnya.

Para pengunjuk rasa membakar gambar Ayatollah Ali Khamenei selama unjuk rasa yang diadakan dalam rangka Solidaritas dengan Pemberontakan Iran, yang diselenggarakan oleh Dewan Perlawanan Nasional Iran, di Whitehall di pusat kota London pada 11 Januari 2026, untuk memprotes penindasan rezim Iran terhadap akses internet dan "mengakui hak mereka untuk membela diri terhadap pasukan rezim". Setidaknya 192 orang tewas dalam dua minggu protes terhadap pemerintah dan tekanan ekonomi di Iran, kata sebuah kelompok hak asasi manusia pada hari Minggu, meningkat tajam dari jumlah korban tewas sebelumnya sebanyak 51 orang. (Foto oleh

Sumber gambar, CARLOS JASSO / AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Para pengunjuk rasa membakar gambar Ayatollah Ali Khamenei.

Mantan Dubes Indonesia di Iran, Dian Wirengjurit melihat warga yang mendukung serangan AS dan Israel kecenderungannya adalah anak-anak muda di perkotaan yang terpapar oleh informasi dari Barat.

"Sedangan di pedesaan, mereka menentang serangan dan mendukung Khamenei," ujar Dian.

Dian pun bilang berdasarkan pengamatannya hampir sebagian besar warga Iran mendukung pemerintahan Khamenei dan menentang serangan itu.

"Di Iran di bawah rezim sekarang itu itu tidak ada orang miskin, tidak ada gelandangan. Sandang, pangan, gas, air, listrik Itu semua tersedia oleh negara, dan dukungan ke pemerintah sangat besar," ujarnya.

Senada, pengamat Timur Tengah Unpad, Dina Sulaeman juga melihat sekelompok orang yang merayakan kematian Khamenei adalah para diaspora Iran yang keluar pascajatuhnya rezim Pahlavi.

"Para diaspora Iran ini yang menginginkan serangan AS dan Israel. Kalau di Iran sendiri, mayoritas tak setuju serangan AS, hanya segelintir anak muda yang terpengaruh oleh Barat dan tak mengetahui kejamnya masa monarki," katanya.

Bagaimana analisis nasib Iran ke depannya?

Yon Machmudi berkata hal itu bergantung dari langkah lanjutan yang diambil oleh AS, Israel, dan Iran.

Pertama adalah proses negosiasi. Presiden AS Donald Trump berkata masih membuka pintu negosiasi dengan Iran. Jika didapat kata sepakat, kata Yon, maka rezim Khamenei masih berkuasa namun di bawah intervensi Barat.

Kedua, perang terus berlangsung. Jika ini terjadi, ujar Yon, maka ada kemungkinan sekelompok warga Iran akan turun ke jalan dan mengambil alih pemerintahan.

"Kemungkinannya masih luas. Bisa saja konflik semakin keras, tidak ada kesepakatan dan berakhir pada tumbangnya rezim secara keseluruhan, tidak hanya pemimpin tapi juga sistem Republik Islam, tapi nampaknya saya melihat Trump membuka ruang negosiasi," kata Yon.

Namun, Dian Wirengjurit menilai serangan itu tidak akan mengubah Iran. Rezim Islam Iran, ujarnya, masih akan terus berjalan dan yang bergantian hanya pimpinannya.

"Karena akar dan fondasi rezim Islam Iran sudah merasuk ke sendi-sendi masyarakat, jalannya pemerintahan sudah tertata baik," ujar Dian.

 Pasukan keamanan terlihat selama demonstrasi pro-pemerintah pada 12 Januari 2026 di Teheran, Iran. Puluhan ribu demonstran berkumpul di Lapangan Enqelab Teheran pada hari Senin, ketika Mohammad Bagher Ghalibaf, ketua parlemen Iran, menyampaikan pidato yang mengecam intervensi Barat di Iran, menyusul protes anti-pemerintah yang sedang berlangsung. Dalam beberapa hari terakhir, Presiden AS Donald Trump telah berulang kali mengancam akan melakukan tindakan militer jika pasukan keamanan Iran membunuh para demonstran.

Sumber gambar, Stringer/Getty Images

Keterangan gambar, Pasukan keamanan terlihat selama demonstrasi pro-pemerintah pada 12 Januari 2026 di Teheran, Iran.

Senada, Dina Sulaeman juga melihat serangan dan kematian Khamenei tak akan mengubah sistem Republik Islam Iran.

Dina berkata pemerintahan Iran tak bergantung pada satu figur yang ketika dia meninggal maka akan menimbulkan kekacauan.

Dia menjelaskan bahwa Iran melaksanakan tiga kali pemilu, yaitu untuk memilih presiden, parlemen dan dewan ulama. "Karena sistemnya sudah dibangun dengan sangat rapi, sekarang pun proses suksesinya itu sudah ada mekanismenya," ujarnya.

Kepala koresponden internasional BBC, Lyse Doucet melaporkan bahwa para ulama dan komandan paling berpengaruh di Iran telah lama bersiap menghadapi kemungkinan meninggalnya Khamenei.

Bahkan sebelum konflik tahun lalu, laporan menyebut bahwa Khamenei telah memerintahkan Majelis Ahli—lembaga berisi sekitar 88 ulama senior yang bertugas memilih pemimpin tertinggi — agar siap menghadapi segala kemungkinan.

Surat kabar the New York Times melaporkan, Khamenei telah memilih "tiga ulama senior" sebagai calon pengganti jika ia dibunuh. Selama bertahun tahun, spekulasi terus berkembang mengenai siapa yang dapat menggantikannya, termasuk putranya, Mojtaba.

Terlepas dari itu, Dina dari Unpad berkata serangan AS dan Israel ke Iran dapat menjadi sebuah pelajaran bagi Indonesia untuk menjadi negara yang mandiri.

"Jadi ketika ditekan, diembargo, bahkan diserang negara lain, Indonesia dapat bertahan. Bertahan itu bukan soal senjata, tapi juga tentang pangan, obat, dan kebutuhan dasar lainnya."

"Sebuah negara kalau dia mandiri, dia akan kuat. Dan dia akan disegani di dunia dan dapat mengambil peran di dunia internasional."